Laman

Tampilkan postingan dengan label pelayanan kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelayanan kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juli 2010

Renungan Harian

Serial Peperangan Rohani
Nyanyian Kemenangan

Dalam peperangan rohani, salah satu senjata yang paling ampuh adalah lewat kuasa pujian. Puji-pujian yang dinaikkan dengan penuh urapan adalah senjata untuk menghancurkan kekuatan iblis yang bekerja di dalam alam roh. Mazmur 149 menceritakan betapa dasyatnya kuasa pujian dalam memenangkan peperangan rohani.

Ayat 1 dalam Mazmur 149 bercerita tentang nyanyian kemenangan, yang dihidupkan oleh Roh Kudus untuk melawan semua musuh-musuh kita. Sebelum kita dapat menyanyikan nyanyian kemenangan ini, mulut kita harus disucikan terlebih dahulu sehingga kita dapat mempersembahkan buah bibir yang menyenangkan hati Allah.

Dalam Yesaya 6:1-7, Nabi Yesaya melihat penglihatan tentang kemuliaan Tuhan, di mana Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi, jubahNya memenuhi Bait Allah, malaikat Serafim dengan enam sayap melayang-layang sambil berseru-seru, "Kudus, kuduslah Tuhan."

Bumi berguncang karena pujian malaikat-malaikat tersebut. Kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah, sehingga Yesaya menyadari bahwa dirinya tidak layak di hadapan kemuliaan Allah.

Yesaya sadar bahwa ia seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir. Najis bibir ini berarti mulut yang suka mengeluarkan kata-kata yang tidak mempermuliakan Tuhan, seperti maki, gosip, fitnah, sumpah serapah, kutuk, kat-kata sia-sia, dan lain-lain.

Orang yang najis bibir tidak dapat bertahan dalam hadirat Allah. Mata Nabi Yesaya telah melihat Sang Raja dan dia ingin menyembah tapi dia sadar bahwa dia tidak layak karena mulutnya belum disucikan.

Malaikat Tuhan mengambil bara dari atas mezbah dan menyentuhkannya kepada mulut Yesaya, dengan demikian mulut Yesaya disucikan.
Bara dari atas mezbah artinya hidup yang diletakkan di atas mezbah, daging disembelih dan dibakar sehingga menghasilkan bau harum bagi Tuhan.

Tuhan menyucikan mulut dan hati kita dengan kuasa darahNya sehingga hidup kita terus ada dalam mezbah, sehingga kita dapat mempersembahkan nyanyian baru bagi Tuhan.

Dalam Mazmur 149 ayat 2 dan 3, menghendaki ada semangat dan gairah dalam umat Tuhan ketika mereka memuji-muji Tuhan. Ada tarian, mazmur, kecapi, rebana dan lain-lain yang diurapi oleh Roh Kudus ketika ketika nyanyian kemenangan kita.

Selanjutnya dalam ayat 4 dan 5, Tuhan bersemayam dalam puji-pujian umatNya. Dan ketika kemuliaan Tuhan turun, maka kuasa Tuhan menjamah dan melawat umatNya dari segala pergumulan dan beban kehidupan.

Bahkan Tuhan memerintahkan, untuk tetap memuji Tuhan di atas tempat tidur kita. Artinya, dalam pembaringanpun roh kita tetap bersekutu dengan Roh Allah. 24 jam hidup dalam roh, karena kita tidak berjaga-jaga maka iblis bisa menyerang kita dengan berbagai pencobaan.

Dan ayat 6 sampai 9, pujian dan pengagungan Allah dalam kerongkongan kita adalah pedang bermata dua untuk membalas dan menghukum iblis, kuasa gelap, penguasa-penguasa di udara, di bumi dan di bawah bumi. Melalui kuasa pujian dan Firman, raja-raja, bangsa-bangsa, kuasa-kuasa dari kerajaan dunia ditaklukkan. Inilah nyanyian kemenangan kita, suatu deklarasi penghukuman bagi perbuatan-perbuatan iblis.

Renungan Harian

Serial Peperangan Rohani

Perlengkapan Peperangan Rohani

Dalam kehidupan kekristenan kita, kita harus tahu bahwa ada yang namanya peperangan rohani. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan hukuman Allah jatuh atas Adam, Hawa dan ular, sejak itu ada permusuhan atau peperangan rohani antara manusia dan iblis.

Kejadian 3:14 mengatakan sampai Yesus Kristus datang untuk meremukkan kepala ular ini, maka iblis tidak berkuasa lagi dalam kehidupan anak-anak Allah.
Efesus 6:10 berkata agar kita kuat dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. Kalau kita tahu bahwa ada perlawanan besar antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Kegelapan, maka kita harus selalu berada dalam kekuatan kuasa Tuhan.

Yakobus 4:7 berkata agar kita tunduk kepada Allah dan melawan iblis maka iblis akan lari dari hadapan kita. Tunduk kepada Allah dulu, baru lawan iblis. Bukan sebaliknya, lawan iblis di mana-mana, tapi kita belum taat kepada Tuhan. Ini berbahaya, ingat kisah anak-anak Skewa yang dihajar habis-habisan oleh iblis yang diusirnya.

Kembali ke Efesus 6, ayat 11 mengajarkan kita untuk memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, mulai dari kepala sampai kaki. Dan ayat 12, mengingatkan kita bahwa peperangan rohani kita bukan melawan suami, isteri, anak, ipar, mertua, dan lain-lain (baca : darah dan daging), tapi melawan iblis yang menjadi dalang dari semua perbuatan-perbuatan dosa dan kejahatan.

Kita melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Inilah kerajaan dunia atau kerajaan kegelapan, yang mempunyai susunan pemerintahan yang teratur. Lucifer beserta malaikat-malaikat yang jatuh berkuasa di udara, langit, laut, hutan, dan inilah medan peperangan kita di dunia ini.

Ayat 13 mengajarkan kita untuk memakai semua perlengkapan senjata Allah (mulai dari kepala sampai kaki) supaya dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan dapat tetap berdiri sesudah kita berperang mengalahkan iblis.

Ayat 14 memerintahkan kita untuk berdiri tegap, yakni sikap sempurna sebagai prajurit Kristus (2 Timotius 2:3-4). Sikap berami sebagai putera-putera Allah. Ada hukum perang dalam Ulangan 20. Gideon juga harus menyaring pasukannya, hanya dengan kalimat ”siapa takut, boleh pulang”. Ternyata, yang pulang 22.000 orang. Wow.... berani adalan syarat mutlak dalam peperangan rohani. Dari 22.000 orang masih disaring lagi, akhirnya tinggal 300-an orang.

Kembali ke perlengkapan perang, jangan lupa pake ikat pinggang kebenaran. Kalau tidak ada ikat pinggang, baju longgar dan celana bisa melorot, akhirnya aib. Artinya, kebenaran itu harus menempel di dalam semua aspek hidup kita. Kalau ada bagian hidup kita yang belum sesuai standar firman Tuhan, dan menjadi cela dan batu sandungan maka nama Tuhan akan dipermalukan.

Berbajuzirahkan keadilan artinya keadilan melindungi hati kita, kita tidak kompromi terhadap dosa dan ketidakbenaran.
Berkasutkan kerelaan pemberitaan injil adalah kehidupan kita menjadi kesaksian bagi dunia ini, Kalau tidak sempat jadi penginjil atau bersaksi, kita bersaksi melalui kata-kata, kelakuan, dan cara hidup kita. Roma 10:15 berkata betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik.

Perisai iman berguna untuk memadamkan panah api iblis. Artinya, perisai iman untuk melawan setiap pencobaan-pencobaan dari si jahat, sehingga kita tidak terbakar oleh pencobaan-pencobaan itu.

Ketopong keselamatan adalah perlindungan terhadap pikiran dan angan-angan kita supaya pikiran jahat atau pikiran daging dikalahkan oleh pikiran Kristus. Dan, yang terakhir dan yang terpenting, jangan lupa pakai pedang roh yaitu Firman Allah. Tuhan Yesus melawan iblis yang mencobaiNya di padang gurun dengan firman Allah. Dan hasilnya, luar bisa, iblis tidak dapar bertahan menghadapi Firman Allah.

Jadi, inilah saatnya. Jadilah prajurit Kristus dan pemenang kehidupan, sehingga namaNya dipermuliakan dalam hidup kita. Amin.