Renungan Harian Peperangan Rohani membawa kehidupan kita kepada kemenangan Ilahi. Sadar tidak sadar, lawan kita si Iblis selalu berkeliling mencari lawan yang dapat ditelannya. Peperangan rohanilah yang membuat kita menyatakan jati diri kita sebagai anak-anak Allah.
SUMBER KEHIDUPAN
Yohanes 6:25-35
Untuk memahami rahasia besar yang akan Yesus nyatakan, kita harus pahami terlebih dulu ayat 63 yang berbunyi, ”Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadaMu adalah roh dan hidup.”
Dalam bahasa Inggris “quickened” berarti memberi hidup, yang memberikan hidup, sumber kehidupan. Roh adalah sumber kehidupan. I Korintus 6:17 mengatakan bahwa barangsiapa mengikatkan dirinya kepada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Roh kita yang sudah dilahirbarukan adalah sumber kehidupan kita.
“Daging sama sekali tidak berguna” dalam bahasa Inggrisnya ”The flesh profited nothing”. Profit dalam bahasa bisnis adalah keuntungan. Kalau kita invest $ 1000 dan memperoleh $ 2000, maka $1000 yang kedua adalah tambahan hasil / keuntungan / kuasa mencipta. Daging tidak membawa keuntungan atau daging tidak membawa kehidupan.
Roh mempunyai kuasa untuk mencipta. Kita tidak tergantung dari apapun di luar untuk memperoleh kehidupan. Ketika menjadi sumber maka kita menjadi “awal” (beginning). Kita membawa sumber kehidupan dalam roh kita dan kita tidak tergantung pada apapun pada hal-hal lahiriah.
Dalam Ibrani 11:3 dikatakan bahwa segala yang ada dan terlihat dalam dunia ini telah diciptakan dari apa yang tidak ada dan yang tidak terlihat.
Dalam Yohanes 6, Yesus berkata, “Aku adalah roti kehidupan”, melalui Rohlah Yesus dapat memberi makan ribuan orang.
Yesus tahu bahwa kita membutuhkan semua hal ini: kerja, uang, mobil, makan, dan lain-lain. Tapi Ia mau kita hidup dalam dunia ini tanpa kuatir akan hal-hal tersebut.
Yesus mengucap syukur bila Bapa menyediakan apa yang Ia perlukan. Dan jika tidak ada, Ia mencipta anggur dari air, uang dari mulut ikan, memperbanyak roti dan ikan.
Demikianlah sumber kehidupan itu ada dalam diri kita. Nikmati semua penyediaan Bapa, dan perintahkan apa yang tidak ada menjadi ada melalui kuasa firman dan Roh Kudus, sebagaimana langit, bumi dan segala isinya diciptakan dengan perkataan Allah. Sehingga sumber kehidupan itu menjadi sumber kesaksian kita bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan bahwa FirmanNya adalah ”Ya dan Amin.”
Tampilkan postingan dengan label peperangan rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peperangan rohani. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Agustus 2010
Selasa, 03 Agustus 2010
Serial Peperangan Rohani
Pengakuan Iman dan Ancaman Maut
Daniel 3:13-18
Dalam Kehidupan Kekristenan, kita senantiasa berhadapan dengan peperangan rohani. Iblis bagaikan singa yang mengaum mencari mangsa yang ditelannya. Dengan kuasa peperangan rohani, kita mengalami kemenangan Ilahi setiap hari.
Orang-orang Babel sangat marah, iri dan benci kepada Sadrak, Mesak dan Abednego karena mereka disertai Allah dan mendapat kedudukan yang penting di pemerintahan Babel. Ketika mereka melihat Sadrak, Mesak dan Abednego tidak mau sujud menyembah patung itu, mereka sangat bersukacita sebab telah menemukan cara untuk membinasakan Sadrak, Mesak, dan Abednego. Daniel pada waktu itu tidak sedang berada di tempat, sehingga loloslah ia dari tragedi itu.
Orang-orang Babel selalu dipenuhi oleh tiga dosa khas yaitu marah, iri dan benci. Setiap anak-anak Tuhan yang diberkati, disertai dan dilindungi Allah sangat menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati orang-orang dunia. Mereka mencari setiap kesempatan untuk menjatuhkan orang-orang pilihan Tuhan.
Mereka membawa tiga tuntutan yang berat kepada Nebukadnezar. Tuntutan pertama, tidak menghormati raja. Tuntutan kedua, tidak berbakti kepada dewa dari sang raja. Tuntutan ketiga, tidak menyembah patung yang didirikan raja.
Ketiga tuduhan ini adalah pelanggaran atas kedaulatan dan wibawa sang raja. Ini sama dengan pengkhianatan atau subversi. Pasti dan harus dihukum demi martabat raja. Kalau Sadrak, Mesak dan Abednego hanya pegawai rendahan, pasti sudah dicampakkan langsung ke dalam api. Karena mereka pejabat tinggi yang terkenal dan dihormati, Nebukadnezar menahan kemarahannya dan memberikan kesempatan satu kali lagi.
Ternyata Sadrak, Mesak, Abednego tidak bergeming dari pengakuan iman mereka kepada Allah yang hidup. ”Jika Allah yang kami luja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu. Tetapi jika seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahuinya, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emasyang Tuanku dirikan itu.”
Inilah pengakuan iman yang berani dan tulus. Banyak orang yang mati sahid dan menderita aniaya dalam sejarah kehidupan kekristenan yang mendapat kekuatan iman dari kisah Sadrak, Mesak dan Abednego.
Ada dua teladan iman dalam pernyataan mereka :
1.Jika Allah mau melepaskan mereka dari dapur api, Dia akan melakukannya.
2.Jika tidak, mereka tetap memegang iman mereka walau mereka harus mati dalam dapur api.
Inilah kualitas iman yang luar biasa. Tetap mempertahankan iman walau Tuhan tidak menjawab doa kita, atau melepaskan kita, atau menolong kita.
Nebukadnezar menjadi sangat marah sehingga kulit wajahnya berubah. Dalam kemarahannya, ia melakukan kebodohan. Dapur api dipanaskan tujuh kali lipat. Seharusnya, kalau diamau menyiksa Sadrak, Mesak, Abednego, api harus dikurangi supaya mereka mati perlahan-lahan.
Api yang dasyat itu justeru menewaskan prajurit-prajurit Nebukadnezar yang mengangkut Sadrak, Mesak, dan Abednego. Sadrak, Mesak dan Abednego sungguh-sungguh mengasihi Allah sehingga mereka rela mati bagi Allah daripada melepaskan ketulusan iman mereka.
Dalam kehidupan kita, ada dapur api yang dibuat iblis untuk menguji ketulusan iman kita dan cinta kita akan Tuhan. Dunia menuntut kita menyembah Allah lain berupa uang, kedudukan, pangkat, harta, dan lain-lain. Kita tidak boleh kompromikan iman kita walau ada ancaman maut sekalipun.
Waktu dapur api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrak, Mesak, Abednego dicampakkan dalam api, mujizat terjadi. Tali yang mengikat mereka terbakar oleh api.
Tali adalah lambang dari kuasa keraajn yang memerintah. Lambang kuasa inilah yang terbakar seperti jerami, sedangkan Sadrak, Mesak, dan Abednego , menari-nari di tengah api.
Nebudnezar melihat ada orang keempat seperti ”anak dewa” menari bersama mereka dalam api. Nebukadnezar menyebutnya ”anak dewa” karena dia tidak tahu jati diri orang tersebut. Tapi kita tahu itu adalah Yesus Kristus.
Saat-saat Sadrak, Mesak, dan Abednego diseret ke dalam api, Yesus berkata, ”Bapa, Aku akan turun ke dalam dapur api itu. Kita tidak dapat membiarkan ketiga orang itu mati tanpa menunjukkan bahwa Allah yang mereka sembah itu hidup.” Maka sebelum Sadrak, Mesak dan Abednego jatuh dalam api, Yesus Kristus telah turun ke dalam api itu. Yesus Kristus menguasai api dan memerintahkannya untuk tidak membahayakan anak-anak Allah, betapapun panasnya api itu membakar.
Bila kita menderita aniaya tetapi kita tetap teguh dalam iman dan tidak kompromi, Yesus akan turun dalam dapur api tersebut dan memadamkan kuasa api itu karena Dia berjanji ”Aku akan menyertaimu sampai kesudahan zaman.”
Daniel 3:13-18
Dalam Kehidupan Kekristenan, kita senantiasa berhadapan dengan peperangan rohani. Iblis bagaikan singa yang mengaum mencari mangsa yang ditelannya. Dengan kuasa peperangan rohani, kita mengalami kemenangan Ilahi setiap hari.
Orang-orang Babel sangat marah, iri dan benci kepada Sadrak, Mesak dan Abednego karena mereka disertai Allah dan mendapat kedudukan yang penting di pemerintahan Babel. Ketika mereka melihat Sadrak, Mesak dan Abednego tidak mau sujud menyembah patung itu, mereka sangat bersukacita sebab telah menemukan cara untuk membinasakan Sadrak, Mesak, dan Abednego. Daniel pada waktu itu tidak sedang berada di tempat, sehingga loloslah ia dari tragedi itu.
Orang-orang Babel selalu dipenuhi oleh tiga dosa khas yaitu marah, iri dan benci. Setiap anak-anak Tuhan yang diberkati, disertai dan dilindungi Allah sangat menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati orang-orang dunia. Mereka mencari setiap kesempatan untuk menjatuhkan orang-orang pilihan Tuhan.
Mereka membawa tiga tuntutan yang berat kepada Nebukadnezar. Tuntutan pertama, tidak menghormati raja. Tuntutan kedua, tidak berbakti kepada dewa dari sang raja. Tuntutan ketiga, tidak menyembah patung yang didirikan raja.
Ketiga tuduhan ini adalah pelanggaran atas kedaulatan dan wibawa sang raja. Ini sama dengan pengkhianatan atau subversi. Pasti dan harus dihukum demi martabat raja. Kalau Sadrak, Mesak dan Abednego hanya pegawai rendahan, pasti sudah dicampakkan langsung ke dalam api. Karena mereka pejabat tinggi yang terkenal dan dihormati, Nebukadnezar menahan kemarahannya dan memberikan kesempatan satu kali lagi.
Ternyata Sadrak, Mesak, Abednego tidak bergeming dari pengakuan iman mereka kepada Allah yang hidup. ”Jika Allah yang kami luja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu. Tetapi jika seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahuinya, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emasyang Tuanku dirikan itu.”
Inilah pengakuan iman yang berani dan tulus. Banyak orang yang mati sahid dan menderita aniaya dalam sejarah kehidupan kekristenan yang mendapat kekuatan iman dari kisah Sadrak, Mesak dan Abednego.
Ada dua teladan iman dalam pernyataan mereka :
1.Jika Allah mau melepaskan mereka dari dapur api, Dia akan melakukannya.
2.Jika tidak, mereka tetap memegang iman mereka walau mereka harus mati dalam dapur api.
Inilah kualitas iman yang luar biasa. Tetap mempertahankan iman walau Tuhan tidak menjawab doa kita, atau melepaskan kita, atau menolong kita.
Nebukadnezar menjadi sangat marah sehingga kulit wajahnya berubah. Dalam kemarahannya, ia melakukan kebodohan. Dapur api dipanaskan tujuh kali lipat. Seharusnya, kalau diamau menyiksa Sadrak, Mesak, Abednego, api harus dikurangi supaya mereka mati perlahan-lahan.
Api yang dasyat itu justeru menewaskan prajurit-prajurit Nebukadnezar yang mengangkut Sadrak, Mesak, dan Abednego. Sadrak, Mesak dan Abednego sungguh-sungguh mengasihi Allah sehingga mereka rela mati bagi Allah daripada melepaskan ketulusan iman mereka.
Dalam kehidupan kita, ada dapur api yang dibuat iblis untuk menguji ketulusan iman kita dan cinta kita akan Tuhan. Dunia menuntut kita menyembah Allah lain berupa uang, kedudukan, pangkat, harta, dan lain-lain. Kita tidak boleh kompromikan iman kita walau ada ancaman maut sekalipun.
Waktu dapur api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrak, Mesak, Abednego dicampakkan dalam api, mujizat terjadi. Tali yang mengikat mereka terbakar oleh api.
Tali adalah lambang dari kuasa keraajn yang memerintah. Lambang kuasa inilah yang terbakar seperti jerami, sedangkan Sadrak, Mesak, dan Abednego , menari-nari di tengah api.
Nebudnezar melihat ada orang keempat seperti ”anak dewa” menari bersama mereka dalam api. Nebukadnezar menyebutnya ”anak dewa” karena dia tidak tahu jati diri orang tersebut. Tapi kita tahu itu adalah Yesus Kristus.
Saat-saat Sadrak, Mesak, dan Abednego diseret ke dalam api, Yesus berkata, ”Bapa, Aku akan turun ke dalam dapur api itu. Kita tidak dapat membiarkan ketiga orang itu mati tanpa menunjukkan bahwa Allah yang mereka sembah itu hidup.” Maka sebelum Sadrak, Mesak dan Abednego jatuh dalam api, Yesus Kristus telah turun ke dalam api itu. Yesus Kristus menguasai api dan memerintahkannya untuk tidak membahayakan anak-anak Allah, betapapun panasnya api itu membakar.
Bila kita menderita aniaya tetapi kita tetap teguh dalam iman dan tidak kompromi, Yesus akan turun dalam dapur api tersebut dan memadamkan kuasa api itu karena Dia berjanji ”Aku akan menyertaimu sampai kesudahan zaman.”
Serial Peperangan Rohani
Pengakuan Iman dan Ancaman Maut
Daniel 3:13-18
Orang-orang Babel sangat marah, iri dan benci kepada Sadrak, Mesak dan Abednego karena mereka disertai Allah dan mendapat kedudukan yang penting di pemerintahan Babel. Ketika mereka melihat Sadrak, Mesak dan Abednego tidak mau sujud menyembah patung itu, mereka sangat bersukacita sebab telah menemukan cara untuk membinasakan Sadrak, Mesak, dan Abednego. Daniel pada waktu itu tidak sedang berada di tempat, sehingga loloslah ia dari tragedi itu.
Orang-orang Babel selalu dipenuhi oleh tiga dosa khas yaitu marah, iri dan benci. Setiap anak-anak Tuhan yang diberkati, disertai dan dilindungi Allah sangat menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati orang-orang dunia. Mereka mencari setiap kesempatan untuk menjatuhkan orang-orang pilihan Tuhan.
Mereka membawa tiga tuntutan yang berat kepada Nebukadnezar. Tuntutan pertama, tidak menghormati raja. Tuntutan kedua, tidak berbakti kepada dewa dari sang raja. Tuntutan ketiga, tidak menyembah patung yang didirikan raja.
Ketiga tuduhan ini adalah pelanggaran atas kedaulatan dan wibawa sang raja. Ini sama dengan pengkhianatan atau subversi. Pasti dan harus dihukum demi martabat raja. Kalau Sadrak, Mesak dan Abednego hanya pegawai rendahan, pasti sudah dicampakkan langsung ke dalam api. Karena mereka pejabat tinggi yang terkenal dan dihormati, Nebukadnezar menahan kemarahannya dan memberikan kesempatan satu kali lagi.
Ternyata Sadrak, Mesak, Abednego tidak bergeming dari pengakuan iman mereka kepada Allah yang hidup. ”Jika Allah yang kami luja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu. Tetapi jika seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahuinya, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emasyang Tuanku dirikan itu.”
Inilah pengakuan iman yang berani dan tulus. Banyak orang yang mati sahid dan menderita aniaya dalam sejarah kehidupan kekristenan yang mendapat kekuatan iman dari kisah Sadrak, Mesak dan Abednego.
Ada dua teladan iman dalam pernyataan mereka :
1.Jika Allah mau melepaskan mereka dari dapur api, Dia akan melakukannya.
2.Jika tidak, mereka tetap memegang iman mereka walau mereka harus mati dalam dapur api.
Inilah kualitas iman yang luar biasa. Tetap mempertahankan iman walau Tuhan tidak menjawab doa kita, atau melepaskan kita, atau menolong kita.
Nebukadnezar menjadi sangat marah sehingga kulit wajahnya berubah. Dalam kemarahannya, ia melakukan kebodohan. Dapur api dipanaskan tujuh kali lipat. Seharusnya, kalau diamau menyiksa Sadrak, Mesak, Abednego, api harus dikurangi supaya mereka mati perlahan-lahan.
Api yang dasyat itu justeru menewaskan prajurit-prajurit Nebukadnezar yang mengangkut Sadrak, Mesak, dan Abednego. Sadrak, Mesak dan Abednego sungguh-sungguh mengasihi Allah sehingga mereka rela mati bagi Allah daripada melepaskan ketulusan iman mereka.
Dalam kehidupan kita, ada dapur api yang dibuat iblis untuk menguji ketulusan iman kita dan cinta kita akan Tuhan. Dunia menuntut kita menyembah Allah lain berupa uang, kedudukan, pangkat, harta, dan lain-lain. Kita tidak boleh kompromikan iman kita walau ada ancaman maut sekalipun.
Waktu dapur api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrak, Mesak, Abednego dicampakkan dalam api, mujizat terjadi. Tali yang mengikat mereka terbakar oleh api.
Tali adalah lambang dari kuasa keraajn yang memerintah. Lambang kuasa inilah yang terbakar seperti jerami, sedangkan Sadrak, Mesak, dan Abednego , menari-nari di tengah api.
Nebudnezar melihat ada orang keempat seperti ”anak dewa” menari bersama mereka dalam api. Nebukadnezar menyebutnya ”anak dewa” karena dia tidak tahu jati diri orang tersebut. Tapi kita tahu itu adalah Yesus Kristus.
Saat-saat Sadrak, Mesak, dan Abednego diseret ke dalam api, Yesus berkata, ”Bapa, Aku akan turun ke dalam dapur api itu. Kita tidak dapat membiarkan ketiga orang itu mati tanpa menunjukkan bahwa Allah yang mereka sembah itu hidup.” Maka sebelum Sadrak, Mesak dan Abednego jatuh dalam api, Yesus Kristus telah turun ke dalam api itu. Yesus Kristus menguasai api dan memerintahkannya untuk tidak membahayakan anak-anak Allah, betapapun panasnya api itu membakar.
Bila kita menderita aniaya tetapi kita tetap teguh dalam iman dan tidak kompromi, Yesus akan turun dalam dapur api tersebut dan memadamkan kuasa api itu karena Dia berjanji ”Aku akan menyertaimu sampai kesudahan zaman.”
Daniel 3:13-18
Orang-orang Babel sangat marah, iri dan benci kepada Sadrak, Mesak dan Abednego karena mereka disertai Allah dan mendapat kedudukan yang penting di pemerintahan Babel. Ketika mereka melihat Sadrak, Mesak dan Abednego tidak mau sujud menyembah patung itu, mereka sangat bersukacita sebab telah menemukan cara untuk membinasakan Sadrak, Mesak, dan Abednego. Daniel pada waktu itu tidak sedang berada di tempat, sehingga loloslah ia dari tragedi itu.
Orang-orang Babel selalu dipenuhi oleh tiga dosa khas yaitu marah, iri dan benci. Setiap anak-anak Tuhan yang diberkati, disertai dan dilindungi Allah sangat menimbulkan kemarahan dan kebencian di hati orang-orang dunia. Mereka mencari setiap kesempatan untuk menjatuhkan orang-orang pilihan Tuhan.
Mereka membawa tiga tuntutan yang berat kepada Nebukadnezar. Tuntutan pertama, tidak menghormati raja. Tuntutan kedua, tidak berbakti kepada dewa dari sang raja. Tuntutan ketiga, tidak menyembah patung yang didirikan raja.
Ketiga tuduhan ini adalah pelanggaran atas kedaulatan dan wibawa sang raja. Ini sama dengan pengkhianatan atau subversi. Pasti dan harus dihukum demi martabat raja. Kalau Sadrak, Mesak dan Abednego hanya pegawai rendahan, pasti sudah dicampakkan langsung ke dalam api. Karena mereka pejabat tinggi yang terkenal dan dihormati, Nebukadnezar menahan kemarahannya dan memberikan kesempatan satu kali lagi.
Ternyata Sadrak, Mesak, Abednego tidak bergeming dari pengakuan iman mereka kepada Allah yang hidup. ”Jika Allah yang kami luja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu. Tetapi jika seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahuinya, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emasyang Tuanku dirikan itu.”
Inilah pengakuan iman yang berani dan tulus. Banyak orang yang mati sahid dan menderita aniaya dalam sejarah kehidupan kekristenan yang mendapat kekuatan iman dari kisah Sadrak, Mesak dan Abednego.
Ada dua teladan iman dalam pernyataan mereka :
1.Jika Allah mau melepaskan mereka dari dapur api, Dia akan melakukannya.
2.Jika tidak, mereka tetap memegang iman mereka walau mereka harus mati dalam dapur api.
Inilah kualitas iman yang luar biasa. Tetap mempertahankan iman walau Tuhan tidak menjawab doa kita, atau melepaskan kita, atau menolong kita.
Nebukadnezar menjadi sangat marah sehingga kulit wajahnya berubah. Dalam kemarahannya, ia melakukan kebodohan. Dapur api dipanaskan tujuh kali lipat. Seharusnya, kalau diamau menyiksa Sadrak, Mesak, Abednego, api harus dikurangi supaya mereka mati perlahan-lahan.
Api yang dasyat itu justeru menewaskan prajurit-prajurit Nebukadnezar yang mengangkut Sadrak, Mesak, dan Abednego. Sadrak, Mesak dan Abednego sungguh-sungguh mengasihi Allah sehingga mereka rela mati bagi Allah daripada melepaskan ketulusan iman mereka.
Dalam kehidupan kita, ada dapur api yang dibuat iblis untuk menguji ketulusan iman kita dan cinta kita akan Tuhan. Dunia menuntut kita menyembah Allah lain berupa uang, kedudukan, pangkat, harta, dan lain-lain. Kita tidak boleh kompromikan iman kita walau ada ancaman maut sekalipun.
Waktu dapur api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrak, Mesak, Abednego dicampakkan dalam api, mujizat terjadi. Tali yang mengikat mereka terbakar oleh api.
Tali adalah lambang dari kuasa keraajn yang memerintah. Lambang kuasa inilah yang terbakar seperti jerami, sedangkan Sadrak, Mesak, dan Abednego , menari-nari di tengah api.
Nebudnezar melihat ada orang keempat seperti ”anak dewa” menari bersama mereka dalam api. Nebukadnezar menyebutnya ”anak dewa” karena dia tidak tahu jati diri orang tersebut. Tapi kita tahu itu adalah Yesus Kristus.
Saat-saat Sadrak, Mesak, dan Abednego diseret ke dalam api, Yesus berkata, ”Bapa, Aku akan turun ke dalam dapur api itu. Kita tidak dapat membiarkan ketiga orang itu mati tanpa menunjukkan bahwa Allah yang mereka sembah itu hidup.” Maka sebelum Sadrak, Mesak dan Abednego jatuh dalam api, Yesus Kristus telah turun ke dalam api itu. Yesus Kristus menguasai api dan memerintahkannya untuk tidak membahayakan anak-anak Allah, betapapun panasnya api itu membakar.
Bila kita menderita aniaya tetapi kita tetap teguh dalam iman dan tidak kompromi, Yesus akan turun dalam dapur api tersebut dan memadamkan kuasa api itu karena Dia berjanji ”Aku akan menyertaimu sampai kesudahan zaman.”
Senin, 02 Agustus 2010
Serial Peperangan Rohani
Pelayanan Roh
Pelayanan Rasul Paulus sangat berbeda dengan pelayanan rasul-rasul lain. Rasul Paulus banyak memberitakan Injil Kasih Karunia, di mana Ia dipakai Tuhan untuk menyatakan kepada jemaat Yahudi yang masih ingin mempertahankan Hukum Taurat bahwa Yesus Kristus telah menggantikan Hukum Taurat itu dengan Hukum Perjanjian Baru.
Dalam 2 Korintus 2:14-17, inilah pelayanan Roh yang dikerjakan Rasul Paulus. Ayat 14, Allah selalu menyediakan ”Jalan Kemenangan Kristus” dalam pelayanan Rasul Paulus yang penuh dengan tantangan dan penderitaan.
Dalam satu hari, sebelum matahari terbit, kita harus merebut jalan kemenangan ini dalam hadirat Tuhan. Dengan iman sebesar biji sesawi, kita bisa perintahkan segala masalah, persoalan, sakit penyakit, serangan kuasa kegelapan, dan lain-lain yang bagaikan gunung yang menghalangi kita untuk tercampak ke laut lepas.
Demikianlah, Rasul Paulus katakan dalam ayat 14, kehidupan kita membawa keharuman pengenalan akan Tuhan di mana-mana. Tanda pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita adalah bau harum yang mempermuliakan nama Tuhan.
Dalam ayat 15 dan 16, kehidupan kita dalam Roh menjadi bau harum bagi mereka yang akan diselamatkan. Melalui kehidupan anak-anak Allah, orang lain mendapatkan kesaksian, penghiburan, dan teladan. Tapi menjadi bau kematian bagi orang yang akan binasa, artinya kehidupan dalam roh membawa hukuman bagi dosa, daging dan iblis.
Ayat 17, menguraikan bahwa banyak orang yang tidak mampu bertahan dalam pelayanan roh karena harus memelihara hati yang murni di hadapan Allah, tidak boleh mencari keuntungan dari Firman Allah. Inilah yang membuat kita menjadi pelayan-pelayan Perjanjian Baru.
Mengenai pelayanan Roh, Rasul Paulus menggambarkan dengan jelas dalam 2 Korintus 3:1-8. Pelayanan Roh tidak memerlukan pujian/pengakuan dari manusia. Umat di Korintus adalah surat pujian bagi pelayanan Rasul Paulus. Sama seperti anggota keluarga/anak didik kita, kalau mereka hidup dalam Kristus, merekalah surat pujian kita. Inilah tanda kasih yang bisa kita tunjukkan bagi Kristus, ”kalau engkau mengasihi Aku, gembalakanlah domba-dombaKu.”
Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus adalah surat Kristus yang ditulis bukan dengan tinta tapi dari Roh Allah yang hidup. Bukan ditulis pada loh batu seperti 10 perintah Allah tapi tertulis dalam loh daging yaitu hati manusia, karena hukum tertulis mematikan tapi roh menghidupkan. Inilah pelayanan perjanjian baru.
Pelayanan Loh Batu / Hukum Taurat memimpin kepada kematian, tapi kemuliaan Allah begitu cemerlang menyertainya. Musa yang berada di atas Gunung Sinai selama 40 hari untuk menerima loh batu ini, pada waktu turun dari gunung, wajahnya begitu bercahaya sehingga orang Israel tidak tahan melihatnya.
Apalagi pelayanan Roh. Kemuliaan yang menyertainya jauh lebih besar dari kemuliaan yang terpancar di wajah Musa. Kemuliaan Allah yang sama pernah tersimpan dalam tulang belulang Elisa, sehingga mayat yang kena pada tulang belulang tersebut menjadi hidup kembali. Demikianlah pengharapan mulia kita, bahwa pelayanan Roh ini akan memimpin kita dalam tubuh kemuliaan dan Kerajaan Allah yang ditegakkan di muka bumi. Haleluyah!
Pelayanan Rasul Paulus sangat berbeda dengan pelayanan rasul-rasul lain. Rasul Paulus banyak memberitakan Injil Kasih Karunia, di mana Ia dipakai Tuhan untuk menyatakan kepada jemaat Yahudi yang masih ingin mempertahankan Hukum Taurat bahwa Yesus Kristus telah menggantikan Hukum Taurat itu dengan Hukum Perjanjian Baru.
Dalam 2 Korintus 2:14-17, inilah pelayanan Roh yang dikerjakan Rasul Paulus. Ayat 14, Allah selalu menyediakan ”Jalan Kemenangan Kristus” dalam pelayanan Rasul Paulus yang penuh dengan tantangan dan penderitaan.
Dalam satu hari, sebelum matahari terbit, kita harus merebut jalan kemenangan ini dalam hadirat Tuhan. Dengan iman sebesar biji sesawi, kita bisa perintahkan segala masalah, persoalan, sakit penyakit, serangan kuasa kegelapan, dan lain-lain yang bagaikan gunung yang menghalangi kita untuk tercampak ke laut lepas.
Demikianlah, Rasul Paulus katakan dalam ayat 14, kehidupan kita membawa keharuman pengenalan akan Tuhan di mana-mana. Tanda pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita adalah bau harum yang mempermuliakan nama Tuhan.
Dalam ayat 15 dan 16, kehidupan kita dalam Roh menjadi bau harum bagi mereka yang akan diselamatkan. Melalui kehidupan anak-anak Allah, orang lain mendapatkan kesaksian, penghiburan, dan teladan. Tapi menjadi bau kematian bagi orang yang akan binasa, artinya kehidupan dalam roh membawa hukuman bagi dosa, daging dan iblis.
Ayat 17, menguraikan bahwa banyak orang yang tidak mampu bertahan dalam pelayanan roh karena harus memelihara hati yang murni di hadapan Allah, tidak boleh mencari keuntungan dari Firman Allah. Inilah yang membuat kita menjadi pelayan-pelayan Perjanjian Baru.
Mengenai pelayanan Roh, Rasul Paulus menggambarkan dengan jelas dalam 2 Korintus 3:1-8. Pelayanan Roh tidak memerlukan pujian/pengakuan dari manusia. Umat di Korintus adalah surat pujian bagi pelayanan Rasul Paulus. Sama seperti anggota keluarga/anak didik kita, kalau mereka hidup dalam Kristus, merekalah surat pujian kita. Inilah tanda kasih yang bisa kita tunjukkan bagi Kristus, ”kalau engkau mengasihi Aku, gembalakanlah domba-dombaKu.”
Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus adalah surat Kristus yang ditulis bukan dengan tinta tapi dari Roh Allah yang hidup. Bukan ditulis pada loh batu seperti 10 perintah Allah tapi tertulis dalam loh daging yaitu hati manusia, karena hukum tertulis mematikan tapi roh menghidupkan. Inilah pelayanan perjanjian baru.
Pelayanan Loh Batu / Hukum Taurat memimpin kepada kematian, tapi kemuliaan Allah begitu cemerlang menyertainya. Musa yang berada di atas Gunung Sinai selama 40 hari untuk menerima loh batu ini, pada waktu turun dari gunung, wajahnya begitu bercahaya sehingga orang Israel tidak tahan melihatnya.
Apalagi pelayanan Roh. Kemuliaan yang menyertainya jauh lebih besar dari kemuliaan yang terpancar di wajah Musa. Kemuliaan Allah yang sama pernah tersimpan dalam tulang belulang Elisa, sehingga mayat yang kena pada tulang belulang tersebut menjadi hidup kembali. Demikianlah pengharapan mulia kita, bahwa pelayanan Roh ini akan memimpin kita dalam tubuh kemuliaan dan Kerajaan Allah yang ditegakkan di muka bumi. Haleluyah!
Jumat, 30 Juli 2010
Serial Peperangan Rohani
DOA YANG MENGGONCANGKAN
Dalam Daniel 9, kita melihat bagaimana hebatnya kuasa yang dinyatakan ke muka bumi karena doa seorang nabi Allah yang bernama Daniel.
Walaupun Daniel memiliki pewahyuan yang sangat dalam dari Allah, ia tetap bertekun dalam menyelidiki Kitab Suci. Melalui Kitab Yeremia, Daniel mengerti semua nubuatan yang dialami bangsanya.
Dalam nubuatan itu tertulis bahwa bangsa Israel akan ditawan selama 70 tahun oleh raja-raja Babilonia. Alasan utama kenapa bangsa Israel ditawan sebagai budak dan harus menderita selama 70 tahun adalah karena mereka berulang-ulang melanggar hari Sabat.
Tuhan menetapkan enam hari lamanya umat boleh bekerja, tapi pada hari ketujuh harus berhenti sebagai Hari Sabat bagi Tuhan. Sesama warga Israel yang menjadi budak, harus dibebaskan pada tahun ketujuh. Dan, setelah enam tahun penuh membajak tanah, maka tahun ketujuh tanah harus dibiarkan dan tidak boleh ditanami apa-apa. Allah berjanji memberikan kelimpahan pada tahun ke-6 sehingga pada tahun ke-7 mereka tetap terpelihara walau tidak menggarap tanah.
Orang Israel terus-menerus melanggar Hukum Taurat sehingga Allah mengijinkan tanah yang ditolak sabatnya itu dapat beristirahat selama 70 tahun.
Perintah untuk bekerja selama enam hari dan istirahat di hari ketujuh bukan untuk menyiksa manusia tapi untuk memberi keuntungan kepada manusia karena pada hari ketujuh Allah memberkati segala pekerjaan kita.
Daniel membaca dan menghitung genap 70 tahun masa pembuangan yang dinubuatkan. Jadi, dia memanjat doa sungguh-sunggun kepada Tuhan. Dan doa dari kesungguhan hati sangat luar biasa. Hati Daniel terkoyak-koyak karena keadaan bangsanya. Doa ini menembus tahta Allah, dan menghasilkan jawaban seketika.
Kita harus belajar dari Daniel tentang rahasia doa yang dikabulkan Tuhan. Jika kita tidak mendoakan, maka janji itu tidak akan terlaksana. Doa adalah syarat penting untuk penggenapan janji Allah.
Daniel bukan hanya berdoa tapi juga berpuasa dan merendahkan diri di hadapan Allah dengan mengadakan pengakuan dosa mewakili bangsanya.
Dalam doa pertobatan Daniel, ada teladan rohani yang luar bisa. Sejarah mencatat Daniel sebagai orang yang sangat setia kepada Allah, dengan sangat gigih mempertahankan keteguhan imannya. Tapi Daniel memilih untuk memikul di bahunya bukan hanya pengakuan dosanya sendiri tapi juga dosa bangsanya.
Daniel mengakui dosa acuh tak acuh yang diperbuat umat terhadap firman Allah. Juga dosa menentang nasihat para nabi. Daniel bertobat atas nama para pemimpin Israel di masa lalu, meratapinya dengan sangat sedih seolah-olah itu adalah dosanya sendiri. Pengakuan dosa adalah hal yang penting bagi kesehatan rohani kita.
Dari ayat 7 sampai 15, Daniel memanjatkan doa dari hati yang hancur. Daniel sangat malu atas dosa-dosa bangsanya, sehingga ia dapat berseru bahwa Israel patut menerima malu dan aib.
Dalam ayat 16 sampai 19, Daniel memanjatkan doa untuk pengampunan dan pemulihan. Walaupun bangsa Yehuda harus menderita aib karena dosa-dosa mereka, Daniel memohon Allah agar teringat Bait Suci Yerusalem dan memulihkan tempat kudusNya.
Tuhan mengutus Malaikat Gabriel untuk membawa jawaban bagi Daniel. Doa Daniel yang dicatat hanya singkat, padahal dalam kenyataannya Daniel berdoa sepanjang hari, dari pagi sampai petang. Pada waktu persembahan korban petang, Malaikat Gabriel datang menyampaikan jawaban Tuhan. Doa Daniel pula yang membuat Tuhan menggerakkan Koreshi untuk mengijinkan orang-orang Israel yang terbuang pulang ke tanah mereka dan membangun Bait Allah.
Dalam Daniel 9, kita melihat bagaimana hebatnya kuasa yang dinyatakan ke muka bumi karena doa seorang nabi Allah yang bernama Daniel.
Walaupun Daniel memiliki pewahyuan yang sangat dalam dari Allah, ia tetap bertekun dalam menyelidiki Kitab Suci. Melalui Kitab Yeremia, Daniel mengerti semua nubuatan yang dialami bangsanya.
Dalam nubuatan itu tertulis bahwa bangsa Israel akan ditawan selama 70 tahun oleh raja-raja Babilonia. Alasan utama kenapa bangsa Israel ditawan sebagai budak dan harus menderita selama 70 tahun adalah karena mereka berulang-ulang melanggar hari Sabat.
Tuhan menetapkan enam hari lamanya umat boleh bekerja, tapi pada hari ketujuh harus berhenti sebagai Hari Sabat bagi Tuhan. Sesama warga Israel yang menjadi budak, harus dibebaskan pada tahun ketujuh. Dan, setelah enam tahun penuh membajak tanah, maka tahun ketujuh tanah harus dibiarkan dan tidak boleh ditanami apa-apa. Allah berjanji memberikan kelimpahan pada tahun ke-6 sehingga pada tahun ke-7 mereka tetap terpelihara walau tidak menggarap tanah.
Orang Israel terus-menerus melanggar Hukum Taurat sehingga Allah mengijinkan tanah yang ditolak sabatnya itu dapat beristirahat selama 70 tahun.
Perintah untuk bekerja selama enam hari dan istirahat di hari ketujuh bukan untuk menyiksa manusia tapi untuk memberi keuntungan kepada manusia karena pada hari ketujuh Allah memberkati segala pekerjaan kita.
Daniel membaca dan menghitung genap 70 tahun masa pembuangan yang dinubuatkan. Jadi, dia memanjat doa sungguh-sunggun kepada Tuhan. Dan doa dari kesungguhan hati sangat luar biasa. Hati Daniel terkoyak-koyak karena keadaan bangsanya. Doa ini menembus tahta Allah, dan menghasilkan jawaban seketika.
Kita harus belajar dari Daniel tentang rahasia doa yang dikabulkan Tuhan. Jika kita tidak mendoakan, maka janji itu tidak akan terlaksana. Doa adalah syarat penting untuk penggenapan janji Allah.
Daniel bukan hanya berdoa tapi juga berpuasa dan merendahkan diri di hadapan Allah dengan mengadakan pengakuan dosa mewakili bangsanya.
Dalam doa pertobatan Daniel, ada teladan rohani yang luar bisa. Sejarah mencatat Daniel sebagai orang yang sangat setia kepada Allah, dengan sangat gigih mempertahankan keteguhan imannya. Tapi Daniel memilih untuk memikul di bahunya bukan hanya pengakuan dosanya sendiri tapi juga dosa bangsanya.
Daniel mengakui dosa acuh tak acuh yang diperbuat umat terhadap firman Allah. Juga dosa menentang nasihat para nabi. Daniel bertobat atas nama para pemimpin Israel di masa lalu, meratapinya dengan sangat sedih seolah-olah itu adalah dosanya sendiri. Pengakuan dosa adalah hal yang penting bagi kesehatan rohani kita.
Dari ayat 7 sampai 15, Daniel memanjatkan doa dari hati yang hancur. Daniel sangat malu atas dosa-dosa bangsanya, sehingga ia dapat berseru bahwa Israel patut menerima malu dan aib.
Dalam ayat 16 sampai 19, Daniel memanjatkan doa untuk pengampunan dan pemulihan. Walaupun bangsa Yehuda harus menderita aib karena dosa-dosa mereka, Daniel memohon Allah agar teringat Bait Suci Yerusalem dan memulihkan tempat kudusNya.
Tuhan mengutus Malaikat Gabriel untuk membawa jawaban bagi Daniel. Doa Daniel yang dicatat hanya singkat, padahal dalam kenyataannya Daniel berdoa sepanjang hari, dari pagi sampai petang. Pada waktu persembahan korban petang, Malaikat Gabriel datang menyampaikan jawaban Tuhan. Doa Daniel pula yang membuat Tuhan menggerakkan Koreshi untuk mengijinkan orang-orang Israel yang terbuang pulang ke tanah mereka dan membangun Bait Allah.
Minggu, 25 Juli 2010
Renungan Harian
Serial Peperangan Rohani
Nyanyian Kemenangan
Dalam peperangan rohani, salah satu senjata yang paling ampuh adalah lewat kuasa pujian. Puji-pujian yang dinaikkan dengan penuh urapan adalah senjata untuk menghancurkan kekuatan iblis yang bekerja di dalam alam roh. Mazmur 149 menceritakan betapa dasyatnya kuasa pujian dalam memenangkan peperangan rohani.
Ayat 1 dalam Mazmur 149 bercerita tentang nyanyian kemenangan, yang dihidupkan oleh Roh Kudus untuk melawan semua musuh-musuh kita. Sebelum kita dapat menyanyikan nyanyian kemenangan ini, mulut kita harus disucikan terlebih dahulu sehingga kita dapat mempersembahkan buah bibir yang menyenangkan hati Allah.
Dalam Yesaya 6:1-7, Nabi Yesaya melihat penglihatan tentang kemuliaan Tuhan, di mana Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi, jubahNya memenuhi Bait Allah, malaikat Serafim dengan enam sayap melayang-layang sambil berseru-seru, "Kudus, kuduslah Tuhan."
Bumi berguncang karena pujian malaikat-malaikat tersebut. Kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah, sehingga Yesaya menyadari bahwa dirinya tidak layak di hadapan kemuliaan Allah.
Yesaya sadar bahwa ia seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir. Najis bibir ini berarti mulut yang suka mengeluarkan kata-kata yang tidak mempermuliakan Tuhan, seperti maki, gosip, fitnah, sumpah serapah, kutuk, kat-kata sia-sia, dan lain-lain.
Orang yang najis bibir tidak dapat bertahan dalam hadirat Allah. Mata Nabi Yesaya telah melihat Sang Raja dan dia ingin menyembah tapi dia sadar bahwa dia tidak layak karena mulutnya belum disucikan.
Malaikat Tuhan mengambil bara dari atas mezbah dan menyentuhkannya kepada mulut Yesaya, dengan demikian mulut Yesaya disucikan.
Bara dari atas mezbah artinya hidup yang diletakkan di atas mezbah, daging disembelih dan dibakar sehingga menghasilkan bau harum bagi Tuhan.
Tuhan menyucikan mulut dan hati kita dengan kuasa darahNya sehingga hidup kita terus ada dalam mezbah, sehingga kita dapat mempersembahkan nyanyian baru bagi Tuhan.
Dalam Mazmur 149 ayat 2 dan 3, menghendaki ada semangat dan gairah dalam umat Tuhan ketika mereka memuji-muji Tuhan. Ada tarian, mazmur, kecapi, rebana dan lain-lain yang diurapi oleh Roh Kudus ketika ketika nyanyian kemenangan kita.
Selanjutnya dalam ayat 4 dan 5, Tuhan bersemayam dalam puji-pujian umatNya. Dan ketika kemuliaan Tuhan turun, maka kuasa Tuhan menjamah dan melawat umatNya dari segala pergumulan dan beban kehidupan.
Bahkan Tuhan memerintahkan, untuk tetap memuji Tuhan di atas tempat tidur kita. Artinya, dalam pembaringanpun roh kita tetap bersekutu dengan Roh Allah. 24 jam hidup dalam roh, karena kita tidak berjaga-jaga maka iblis bisa menyerang kita dengan berbagai pencobaan.
Dan ayat 6 sampai 9, pujian dan pengagungan Allah dalam kerongkongan kita adalah pedang bermata dua untuk membalas dan menghukum iblis, kuasa gelap, penguasa-penguasa di udara, di bumi dan di bawah bumi. Melalui kuasa pujian dan Firman, raja-raja, bangsa-bangsa, kuasa-kuasa dari kerajaan dunia ditaklukkan. Inilah nyanyian kemenangan kita, suatu deklarasi penghukuman bagi perbuatan-perbuatan iblis.
Nyanyian Kemenangan
Dalam peperangan rohani, salah satu senjata yang paling ampuh adalah lewat kuasa pujian. Puji-pujian yang dinaikkan dengan penuh urapan adalah senjata untuk menghancurkan kekuatan iblis yang bekerja di dalam alam roh. Mazmur 149 menceritakan betapa dasyatnya kuasa pujian dalam memenangkan peperangan rohani.
Ayat 1 dalam Mazmur 149 bercerita tentang nyanyian kemenangan, yang dihidupkan oleh Roh Kudus untuk melawan semua musuh-musuh kita. Sebelum kita dapat menyanyikan nyanyian kemenangan ini, mulut kita harus disucikan terlebih dahulu sehingga kita dapat mempersembahkan buah bibir yang menyenangkan hati Allah.
Dalam Yesaya 6:1-7, Nabi Yesaya melihat penglihatan tentang kemuliaan Tuhan, di mana Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi, jubahNya memenuhi Bait Allah, malaikat Serafim dengan enam sayap melayang-layang sambil berseru-seru, "Kudus, kuduslah Tuhan."
Bumi berguncang karena pujian malaikat-malaikat tersebut. Kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah, sehingga Yesaya menyadari bahwa dirinya tidak layak di hadapan kemuliaan Allah.
Yesaya sadar bahwa ia seorang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir. Najis bibir ini berarti mulut yang suka mengeluarkan kata-kata yang tidak mempermuliakan Tuhan, seperti maki, gosip, fitnah, sumpah serapah, kutuk, kat-kata sia-sia, dan lain-lain.
Orang yang najis bibir tidak dapat bertahan dalam hadirat Allah. Mata Nabi Yesaya telah melihat Sang Raja dan dia ingin menyembah tapi dia sadar bahwa dia tidak layak karena mulutnya belum disucikan.
Malaikat Tuhan mengambil bara dari atas mezbah dan menyentuhkannya kepada mulut Yesaya, dengan demikian mulut Yesaya disucikan.
Bara dari atas mezbah artinya hidup yang diletakkan di atas mezbah, daging disembelih dan dibakar sehingga menghasilkan bau harum bagi Tuhan.
Tuhan menyucikan mulut dan hati kita dengan kuasa darahNya sehingga hidup kita terus ada dalam mezbah, sehingga kita dapat mempersembahkan nyanyian baru bagi Tuhan.
Dalam Mazmur 149 ayat 2 dan 3, menghendaki ada semangat dan gairah dalam umat Tuhan ketika mereka memuji-muji Tuhan. Ada tarian, mazmur, kecapi, rebana dan lain-lain yang diurapi oleh Roh Kudus ketika ketika nyanyian kemenangan kita.
Selanjutnya dalam ayat 4 dan 5, Tuhan bersemayam dalam puji-pujian umatNya. Dan ketika kemuliaan Tuhan turun, maka kuasa Tuhan menjamah dan melawat umatNya dari segala pergumulan dan beban kehidupan.
Bahkan Tuhan memerintahkan, untuk tetap memuji Tuhan di atas tempat tidur kita. Artinya, dalam pembaringanpun roh kita tetap bersekutu dengan Roh Allah. 24 jam hidup dalam roh, karena kita tidak berjaga-jaga maka iblis bisa menyerang kita dengan berbagai pencobaan.
Dan ayat 6 sampai 9, pujian dan pengagungan Allah dalam kerongkongan kita adalah pedang bermata dua untuk membalas dan menghukum iblis, kuasa gelap, penguasa-penguasa di udara, di bumi dan di bawah bumi. Melalui kuasa pujian dan Firman, raja-raja, bangsa-bangsa, kuasa-kuasa dari kerajaan dunia ditaklukkan. Inilah nyanyian kemenangan kita, suatu deklarasi penghukuman bagi perbuatan-perbuatan iblis.
Renungan Harian
Serial Peperangan Rohani
Perlengkapan Peperangan Rohani
Dalam kehidupan kekristenan kita, kita harus tahu bahwa ada yang namanya peperangan rohani. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan hukuman Allah jatuh atas Adam, Hawa dan ular, sejak itu ada permusuhan atau peperangan rohani antara manusia dan iblis.
Kejadian 3:14 mengatakan sampai Yesus Kristus datang untuk meremukkan kepala ular ini, maka iblis tidak berkuasa lagi dalam kehidupan anak-anak Allah.
Efesus 6:10 berkata agar kita kuat dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. Kalau kita tahu bahwa ada perlawanan besar antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Kegelapan, maka kita harus selalu berada dalam kekuatan kuasa Tuhan.
Yakobus 4:7 berkata agar kita tunduk kepada Allah dan melawan iblis maka iblis akan lari dari hadapan kita. Tunduk kepada Allah dulu, baru lawan iblis. Bukan sebaliknya, lawan iblis di mana-mana, tapi kita belum taat kepada Tuhan. Ini berbahaya, ingat kisah anak-anak Skewa yang dihajar habis-habisan oleh iblis yang diusirnya.
Kembali ke Efesus 6, ayat 11 mengajarkan kita untuk memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, mulai dari kepala sampai kaki. Dan ayat 12, mengingatkan kita bahwa peperangan rohani kita bukan melawan suami, isteri, anak, ipar, mertua, dan lain-lain (baca : darah dan daging), tapi melawan iblis yang menjadi dalang dari semua perbuatan-perbuatan dosa dan kejahatan.
Kita melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Inilah kerajaan dunia atau kerajaan kegelapan, yang mempunyai susunan pemerintahan yang teratur. Lucifer beserta malaikat-malaikat yang jatuh berkuasa di udara, langit, laut, hutan, dan inilah medan peperangan kita di dunia ini.
Ayat 13 mengajarkan kita untuk memakai semua perlengkapan senjata Allah (mulai dari kepala sampai kaki) supaya dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan dapat tetap berdiri sesudah kita berperang mengalahkan iblis.
Ayat 14 memerintahkan kita untuk berdiri tegap, yakni sikap sempurna sebagai prajurit Kristus (2 Timotius 2:3-4). Sikap berami sebagai putera-putera Allah. Ada hukum perang dalam Ulangan 20. Gideon juga harus menyaring pasukannya, hanya dengan kalimat ”siapa takut, boleh pulang”. Ternyata, yang pulang 22.000 orang. Wow.... berani adalan syarat mutlak dalam peperangan rohani. Dari 22.000 orang masih disaring lagi, akhirnya tinggal 300-an orang.
Kembali ke perlengkapan perang, jangan lupa pake ikat pinggang kebenaran. Kalau tidak ada ikat pinggang, baju longgar dan celana bisa melorot, akhirnya aib. Artinya, kebenaran itu harus menempel di dalam semua aspek hidup kita. Kalau ada bagian hidup kita yang belum sesuai standar firman Tuhan, dan menjadi cela dan batu sandungan maka nama Tuhan akan dipermalukan.
Berbajuzirahkan keadilan artinya keadilan melindungi hati kita, kita tidak kompromi terhadap dosa dan ketidakbenaran.
Berkasutkan kerelaan pemberitaan injil adalah kehidupan kita menjadi kesaksian bagi dunia ini, Kalau tidak sempat jadi penginjil atau bersaksi, kita bersaksi melalui kata-kata, kelakuan, dan cara hidup kita. Roma 10:15 berkata betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik.
Perisai iman berguna untuk memadamkan panah api iblis. Artinya, perisai iman untuk melawan setiap pencobaan-pencobaan dari si jahat, sehingga kita tidak terbakar oleh pencobaan-pencobaan itu.
Ketopong keselamatan adalah perlindungan terhadap pikiran dan angan-angan kita supaya pikiran jahat atau pikiran daging dikalahkan oleh pikiran Kristus. Dan, yang terakhir dan yang terpenting, jangan lupa pakai pedang roh yaitu Firman Allah. Tuhan Yesus melawan iblis yang mencobaiNya di padang gurun dengan firman Allah. Dan hasilnya, luar bisa, iblis tidak dapar bertahan menghadapi Firman Allah.
Jadi, inilah saatnya. Jadilah prajurit Kristus dan pemenang kehidupan, sehingga namaNya dipermuliakan dalam hidup kita. Amin.
Perlengkapan Peperangan Rohani
Dalam kehidupan kekristenan kita, kita harus tahu bahwa ada yang namanya peperangan rohani. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan hukuman Allah jatuh atas Adam, Hawa dan ular, sejak itu ada permusuhan atau peperangan rohani antara manusia dan iblis.
Kejadian 3:14 mengatakan sampai Yesus Kristus datang untuk meremukkan kepala ular ini, maka iblis tidak berkuasa lagi dalam kehidupan anak-anak Allah.
Efesus 6:10 berkata agar kita kuat dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. Kalau kita tahu bahwa ada perlawanan besar antara Kerajaan Allah dan Kerajaan Kegelapan, maka kita harus selalu berada dalam kekuatan kuasa Tuhan.
Yakobus 4:7 berkata agar kita tunduk kepada Allah dan melawan iblis maka iblis akan lari dari hadapan kita. Tunduk kepada Allah dulu, baru lawan iblis. Bukan sebaliknya, lawan iblis di mana-mana, tapi kita belum taat kepada Tuhan. Ini berbahaya, ingat kisah anak-anak Skewa yang dihajar habis-habisan oleh iblis yang diusirnya.
Kembali ke Efesus 6, ayat 11 mengajarkan kita untuk memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, mulai dari kepala sampai kaki. Dan ayat 12, mengingatkan kita bahwa peperangan rohani kita bukan melawan suami, isteri, anak, ipar, mertua, dan lain-lain (baca : darah dan daging), tapi melawan iblis yang menjadi dalang dari semua perbuatan-perbuatan dosa dan kejahatan.
Kita melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara. Inilah kerajaan dunia atau kerajaan kegelapan, yang mempunyai susunan pemerintahan yang teratur. Lucifer beserta malaikat-malaikat yang jatuh berkuasa di udara, langit, laut, hutan, dan inilah medan peperangan kita di dunia ini.
Ayat 13 mengajarkan kita untuk memakai semua perlengkapan senjata Allah (mulai dari kepala sampai kaki) supaya dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat dan dapat tetap berdiri sesudah kita berperang mengalahkan iblis.
Ayat 14 memerintahkan kita untuk berdiri tegap, yakni sikap sempurna sebagai prajurit Kristus (2 Timotius 2:3-4). Sikap berami sebagai putera-putera Allah. Ada hukum perang dalam Ulangan 20. Gideon juga harus menyaring pasukannya, hanya dengan kalimat ”siapa takut, boleh pulang”. Ternyata, yang pulang 22.000 orang. Wow.... berani adalan syarat mutlak dalam peperangan rohani. Dari 22.000 orang masih disaring lagi, akhirnya tinggal 300-an orang.
Kembali ke perlengkapan perang, jangan lupa pake ikat pinggang kebenaran. Kalau tidak ada ikat pinggang, baju longgar dan celana bisa melorot, akhirnya aib. Artinya, kebenaran itu harus menempel di dalam semua aspek hidup kita. Kalau ada bagian hidup kita yang belum sesuai standar firman Tuhan, dan menjadi cela dan batu sandungan maka nama Tuhan akan dipermalukan.
Berbajuzirahkan keadilan artinya keadilan melindungi hati kita, kita tidak kompromi terhadap dosa dan ketidakbenaran.
Berkasutkan kerelaan pemberitaan injil adalah kehidupan kita menjadi kesaksian bagi dunia ini, Kalau tidak sempat jadi penginjil atau bersaksi, kita bersaksi melalui kata-kata, kelakuan, dan cara hidup kita. Roma 10:15 berkata betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik.
Perisai iman berguna untuk memadamkan panah api iblis. Artinya, perisai iman untuk melawan setiap pencobaan-pencobaan dari si jahat, sehingga kita tidak terbakar oleh pencobaan-pencobaan itu.
Ketopong keselamatan adalah perlindungan terhadap pikiran dan angan-angan kita supaya pikiran jahat atau pikiran daging dikalahkan oleh pikiran Kristus. Dan, yang terakhir dan yang terpenting, jangan lupa pakai pedang roh yaitu Firman Allah. Tuhan Yesus melawan iblis yang mencobaiNya di padang gurun dengan firman Allah. Dan hasilnya, luar bisa, iblis tidak dapar bertahan menghadapi Firman Allah.
Jadi, inilah saatnya. Jadilah prajurit Kristus dan pemenang kehidupan, sehingga namaNya dipermuliakan dalam hidup kita. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)